JEMBATAN KESEDERHANAAN “

ISLAM YANG SANGAT SEDERHANA DAN MUDAH…

Dari suasana yang penuh dengan suara-suara riuh rendah pemikiran, referensi, opini, dan tingkah laku umat manusia tentang Islam itu tadi, yang kadang sangat membingungkan kita, sekarang marilah kita masuk ke pemahaman yang sangat sederhana dan mudah tentang Islam itu. Untuk itu mari kita cari informasi tentang Islam itu melalui referensi tertinggi tentang Islam yang ada saat ini, yaitu Al Qur’an, dan As Sunnah. Mari kita lihat Al Qur’an dulu Umat manusia, terutama yang belum menjadi saksi atas kebenaran Al Qur’an ini, boleh-boleh saja untuk ragu tentang kebenaran isi Al Qur’an ini. Namanya juga belum menjadi saksi, ya…, boleh dong ragu. Makanya tugas bagi yang sudah menyaksikan akan kebenaran Al Qur’an itu sederhana juga, yaitu menyampaikan persaksiannya itu kepada umat manusia sebatas kapasitasnya sendiri. Bahwa Al Qur’an itu adalah untuk seluruh umat manusia, bukan hanya khusus untuk umat Islam. Nah…, kalau diperhatikan dengan sangat sederhana, ayat-ayat Al Qur’an itu pada puncaknya memberitahukan kita tentang dua hal. Di satu sisi adalah pemberitahuan kepada kita umat manusia ini tentang “ADANYA DZAT TUNGGAL YANG NAMANYA ALLAH, DZAT TUNGGAL INI MAHA ( ULTIMATE ) MELIPUTI SEGALA SESUATU, DAN WUJUDNYA LAISA KAMISTLIHI SYAI’UN (TIDAK SAMA DENGAN APAPUN JUGA). Dan di sisi yang lainnya adalah untuk membuka kesadaran kita bahwa pada dasarnya “MANUSIA ITU HANYALAH MAKHLUK CIPTAAN ALLAH YANG TIDAK BISA APA-APA (FANA)”. Lalu Allah kemudian memberitahukan pula agar kita, manusia yang serba tidak bisa apa-apa ini, untuk mau berada di PUNCAK KEBERADAAN, yaitu BERGANTUNG, BERPEGANG TEGUH, dan MEWAKILKAN diri kita kepada ALLAH yang SERBA MAHA itu. Tujuan dari puncak keberadaan ini juga sangat sederhana sekali, yaitu: “agar kita umat manusia ini, sebelum beraktivitas dan menjalankan tugas kita masing-masing dalam meramaikan dunia ini, agar maulah dengan sengaja (berniat) sejenak memundurkan kesadaran kita bahwa dalam beraktivitas itu, kita semata-mata hanya memakai fasilitas dari dan milik Tuhan”. Ya…, kita DUDUK dalam kesadaran bahwa kita menjalankan fungsi sebagai Duta Istimewa Tuhan dengan tidak berbekal apa-apa. Kita hanya menggunakan fasilitas yang keseluruhannya adalah dari Tuhan juga. “Yang sebenarnya…, melihat, mendengar, dan tahu itu adalah dari dan milik-Ku, hidup itu adalah milik-Ku, gerak itu adalah milik-Ku, daya itu adalah milik-Ku. Semuanya Ku anugerahkan kepadamu agar kamu bisa menjalani kekhalifahanmu dengan tidak usah capek-capek dimuka bumi ini. Tepatnya…, Ku-tiupkan Ruh-Ku kepadamu, sehingga dengan RUH-KU ini kamu lalu bisa melihat, mendengar, tahu, hidup, dan bergerak. Oleh sebab itu, maka bersyukurlah kepada-Ku …!!. Sederhana dan mudah kok…”, sabda Sang Maha Memiliki segala sesuatu itu dengan sangat tegas sekali. Dan…, kalau kita sudah berhasil duduk dengan pas dan tepat pada posisi kesadaran seperti ini, Deerrr…, bahwa kita hanyalah memakai fasilitas yang kesemuanya adalah dari dan milik Allah, maka sebagai rasa tanggung jawab dan terima kasih kita atas penggunaan fasilitas itu, tiada lain yang bisa kita lakukan kecuali hanya BERSYUKUR kepada Allah yang punya segala fasilitas itu. Dan hasil dari adanya sikap bersyukur ini adalah munculnya di dalam dada kita rasa ketundukan, ketawadu’an, kebersujudan, kepatuhan, dan tentu saja… kebahagiaan. Ya…, BAHAGIA, AF LAHA … itu pastilah ditangan…!!. Sederhana dan mudah sekali sebenarnya muatan Al Qur’an itu. Akan tetapi untuk sampai kepada pengertian yang sesederhana dan semudah ini, Allah harus mutar-mutar dulu menerangkan tentang tentang lautan, tentang angin, tentang bintang-bintang dan matahari, tentang langit, tentang bumi, ya…, tentang alam semesta inilah. Kadang-kadang Allah mengulang-ngulang keterangan-keterangan yang serupa di beberapa tempat yang berbeda. Lalu setelah mutar-mutar begitu, barulah kemudian Allah menutup cerita tentang alam semesta itu: “Aaaa… kesemuanya itu adalah hasil dari Kehebatan-Ku. Akulah yang menciptakan-Nya, Akulah yang memeliharanya, Aku jugalah kelak yang akan menghancurkannya kembali…!. Karena Aku ini memang Sang Maha Hebat, Sang Maha Kuasa, Sang Maha segalanya…!. Maka janganlah sekali-kali kalian berpaling sedikitpun dari Wajah-Ku, karena kesemua itu tadi hanyalah tanda-tanda Keberadaan-Ku, Hijab-Ku …!”. Artinya apa…?. Agar umat manusia ini bisa menyadari dan melihat Allah, maka Allah dengan sengaja telah membuat tanda (hijab) atas keberadaan-Nya. Sehingga dengan HIJAB itu ADANYA ALLAH akan sangat NYATA sekali. Kita ternyata memang harus “melihat” Allah melalui Hijab-Nya. Akan tetapi betapa banyak kita ini yang hanya berhenti di hijabnya saja, di tanda-tanda-Nya saja, dan tidak mampu memandang Wajah Tuhan dari balik hijab itu. Ini ibaratnya adalah, bahwa kita baru bisa menyadari dan melihat adanya GERAKAN ANGIN tatkala pada angin itu kita beri tanda berupa ASAP. Begitu juga, pada suatu tempat atau ruangan, kita baru bisa menyadari adanya UTARA dan SELATAN tatkala pada tempat itu kita beri tanda berupa “MAGNIT KOMPAS”. Akan tetapi kebanyakan manusia hanya berhenti di melihat dan menyadari adanya asap dan magnit kompas nya saja, dan tidak mampu menyadari akan adanya angin, akan adanya uUtara dan selatan. Begitu juga, untuk menyadarkan kita tentang maksud, tujuan dan tugas kita atas keberadaan kita di muka bumi ini, Allah harus mutar-mutar dulu mengingatkan kita tentang asal muasal kejadian manusia, tentang contoh-contoh manusia yang telah menjalankan tugasnya dengan baik dan berhasil maupun orang-orang gagal dengan hasil yang buruk pula. Allah juga menggambarkan secara sederhana suasana-suasana yang mengikuti orang-orang yang berhasil dalam menjalankan tugasnya berupa munculnya suasana nikmat, bahagia, senang, damai, selamat (suasana syurgawi). Begitu juga suasana yang akan dialami oleh orang-orang yang gagal dalam memikul tanggung jawab kekhalifahannya seperti munculnya suasana tersiksa, terpaksa, ragu-ragu, gaduh (suasana neraka). Semua keterangan yang mutar-mutar itu tadi, dan kadang-kadang diulang-ulang pula, gunanya hanyalah sederhana sekali, yaitu agar kita mau pula mencontoh orang-orang yang mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan berhasil itu. Mereka mampu dan berhasil menorehkan tinta emas dalam perputaran sejarah peradaban umat manusia. Mereka menebarkan rahmat bagi umat manusia lainya. Nabi Muhammad SAW adalah satu dari sekian banyak manusia yang bisa kita jadikan contoh itu. Sebaliknya adalah, agar kita tidak mengikuti langkah orang-orang yang tersasar-sasar dalam menjalankan tugasnya, misalnya langkah Fir’uan, Namrud, Abu Lahab, dan sebagainya. Mereka-mereka inilah yang telah menyebar petaka disetiap kata dan tindakan mereka. Kalau di zaman modern saat ini, ya…, seperti Hitler, Musolini, Hirohito, Bush, Blair, Saddam Hussein, Howard itulah to say the least. Sudahlah begitu, Allah masih memberitahukan lagi cara-cara agar kita bisa dengan mudah mendapatkan posisi seperti yang ditempati oleh manusia-manusia yang berhasil dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. Ini semua adalah sebagai petunjuk yang nyata agar supaya umat manusia itu nggak usah capek-capek lagi mencari-cari caranya. Dan puncak dari ibadah ini ternyata adalah shalat, sekali lagi shalat. Tapi shalat yang khusyu’ …!. Akan tetapi ternyata kita tidak mudah untuk masuk ke dalam kesederhanaan dan kemudahan seperti ini dalam memahami Al Qur’an. Bagi sebagian besar kita, apalagi bagi yang otaknya sudah penuh dengan dalil-dalil, hafalan-hafalan, maka kesederhanaan dan kemudahan agama itu akan berubah menjadi sesuatu yang sulit, rumit, dan membingungkan. Akhirnya kita menjadi capek sendiri dengan keruwetan cara berfikir kita itu. Lalu bagaimana dengan As Sunnah…?. Tentang As Sunnah ini, sebenarnya tidak kalah sederhana dan mudahnya dengan kesederhanaan dan kemudahan muatan Al Qur’an seperti diatas. Karena memang As Sunnah ini adalah contoh real dari muatan Al Qur’an itu sendiri yang memang telah sederhana dan kemudian dilaksanakan oleh tangan orang yang sangat sederhana pula (Sang Ummi), yaitu Muhammad Rasulullah SAW. Mudah sekali beliau menjalankan dan masuk ke dalam suasana yang islami, damai, dan selamat itu. Nah…, muatan dari As Sunnah itu pada dasarnya hanyalah untuk memberitahukan kita contoh-contoh tentang bagaimana cara Muhammad SAW berhasil duduk diwilayah orang-orang yang BERTAQWA seperti juga dengan Nabi-Nabi sebelumnya, dan bagaimana berhasilnya Beliau dalam menjawab masalah-masalah umat manusia dengan menghasilkan solusi-solusinya yang sangat mencengangkan. Jadi kandungan As Sunnah itu sebenarnya lebih kepada muatan PROBLEM SOLVING nya dari pada muatan PERADABAN dan KEBUDAYAANNYA. Kenapa…?. Karena memang setting peradaban di dalam As Sunnah itu adalah peradaban Bangsa ARAB di tahun enam ratusan yang memang sangat jauh berbeda dengan peradaban bangsa-bangsa dunia lainnya saat ini. Bahkan jauh berbeda dengan peradaban bangsa Arab yang ada sekarang ini. Sehingga boleh jadi saat ini kita masih bisa hafal dengan berbagai hadist yang berkenaan dengan peradaban dan kebudayaan itu, akan tetapi pemakaian atau pelaksanaannya sudah sangat sedikit sekali di tengah-tengah masyarakat kalau tidak mau dikatakan punah. Sedangkan cara-cara problem solving yang dipakai oleh Rasulullah di sepanjang hidup Beliau, boleh dikatakan akan tetap relevan untuk dipakai sampai saat ini, bahkan untuk masa-masa yang akan datang sekalipun. Boleh jadi cara-cara problem solving itu akan mengalami perbaikan disana-sini ketika kita melintas zaman demi zaman. Akan tetapi RUH atau SPIRIT dari problem solving itu akan tetap abadi. Karena memang masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia ini dari dulu sampai ke masa datang, ya… itu-itu juga. Cuma kualitas, kuantitas, dan intensitasnya saja yang bertambah mengikuti perubahan peradaban zaman. Disamping itu…, ada cara-cara problem solving yang akan tetap bertahan, tidak lapuk dimakan zaman. Yaitu cara-cara agar kita bisa cepat berada di wilayah keberserahan dihadapan Allah seperti yang diinginkan oleh Al Qur’an, wilayah TAQWA. Cara-cara itu adalah dengan melalui ibadah-ibadah tertentu seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Walaupun kemudian dalam pelaksanaannya terjadi pula berbagai beberapa perbedaan, ya… ndak masalah. Sepanjang perbedaan-perbedaan itu pernah dilakukan oleh Rasulullah, ya… oke-oke saja sebenarnya. Dan…, let me tell you a little secret…, bahwa dari sekian banyak ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, kembali shalat menjadi primadona teratas sebagai cara untuk membawa kesadaran kita ke wilayah keberserahan diri dihadapan Allah. Do that lah…, and you will find your indisputable destiny there. Karena memang shalat ini adalah puncak pencapaian dari evolusi cara-cara beribadah umat manusia dari zaman ke zaman dalam menyembah Tuhan. Karena ibadah shalat adalah sebuah ibadah yang di dalamnya ada sisi logik dan sisi holistik yang bergerak silih berganti maupun secara bersamaan membentuk gerakan cyclic rohani dan jasmani yang sangat sempurna dan luar biasa. Secara sederhana kesempurnaan gerakan cyclic ini dapat digambarkan sebagai berikut: Dimensi Logik dari shalat adalah berupa gerakan fisik, bilangan rakaat, dan bacaan-bacaan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah sebagai hasil dari perjalanan “isra’ dan mi’raj” Beliau. Pada tatanan dimensi logik ini boleh dikatakan tidak ada bedanya sama sekali dengan kegiatan-kegiatan olah fisik lainnya. Malah gerakan-gerakan pada olah raga tertentu boleh jadi punya pengaruh yang lebih baik dari gerakan-gerakan shalat, terutama jika shalat itu kita lakukan dengan kecepatan yang sangat cepat. Sedangkan dimensi Holistik dari shalat adalah saat terjadinya perjalanan ruhani kita (mi’raj) menuju ALLAH ketika shalat itu kita lakukan. Saat kita memuja kebesaran Allah, maka kita benar-benar menyampaikan MUATAN pujaan itu kepada Dzat yang kita sembah, bukan hanya sekedar mengucapkan pujaan itu dibibir saja. Saat kita meminta dalam do’a, maka kita benar-benar menyampaikan MUATAN do’a itu kepada Dzat yang kita sembah, bukan hanya sekedar mengucapkan permintaan itu di bibir saja. Saat kita mengembalikan semua pujian kepada Allah, maka kita benar-benar mengembalikannya kepada Dzat, bukan hanya sekedar ucapan pengembalian di bibir saja. Begitu juga saat kita ruku dan sujud, maka kita benar-benar merendah dan mendekat kepada Tuhan, bukan hanya sekedar bergerak-gerak seperti bebek sedang minum. Jadi di dalam saat shalat yang sempurna (khusyu’), akan terkandung kegiatan-kegiatan dalam dimensi logik dan holistik secara simultan (terus menerus). Ruhani saya menguasai tubuh saya, menguasai fikiran saya, dan menguasai emosi saya untuk kemudian ruhani saya berlari menuju ke Tuhan. Dan karena saya berlari menuju Tuhan Yang Maha Hidup, maka Dia akan memberikan respon-Nya saat shalat itu juga. Nah…, sesederhana dan semudah ini sajalah sebenarnya muatan Al Qur’an dan As Sunnah itu untuk kita pikul dari generasi ke generasi. Karena nggak mungkinlah Rasulullah itu mewariskan hal-hal yang rumit-rumit dan sulit-sulit buat kita. Nggak lah…! Sedangkan MUATAN SISA dari sekian banyak ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist adalah anjuran agar kita ini, siapa saja tanpa kecuali, setelah mendapatkan ALAMAT bersandar yang HAKIKI, untuk kemudian saling BERLOMBA-LOMBA menuju KEBAIKAN, FASTABIQUL KHAIRAT. Maka seyogyanyalah kita umat manusia ini untuk saling berlomba-lomba mengolah ALAM SEMESTA dan DIRI kita sendiri agar mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih baik, teknologi yang lebih baik, ekonomi yang lebih baik, dan peradaban yang lebih baik. Karena kita ini memang diturunkan ke muka bumi untuk menaburkan kebaikan demi kebaikan kepada sesama umat manusia. Dalam suasana terburu kpun, taburkanlah kebaikan. Janganlah membuat suasana yang telah buruk itu malah menjadi bertambah buruk karena adanya kita. Apapun hasilnya, maka ambillah itu sebagai bahan pelajaran buat kita dalam memperbaiki kualitas diri kita. Dan akhirnya kita tutup siklus perlombaan menuju kebaikan itu dengan ungkapan SYUKUR ke alamat kita bersandar awal yang HAKIKI tadi itu, untuk kemudian melanjutkan lagi kepada siklus kebaikan-kebaikan yang lainnya. Al Qur’an mengisyaratkan bahwa SUASANA umat yang berlomba-lomba menuju kebaikan ini, fastabiqul khairat, dengan hasil terbaik pula, pernah diwujudkan oleh umat yang berkarakter ULUL ALAB. Karakter Sang Duta Istimewa Tuhan sejati, bahwa: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ULUL ALBAB (orang-orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”, (Ali Imran 190-191) Jadi kesederhanaan dan kemudahan ajaran Islam ini sungguh sangat jauh berbeda dengan konsep-konsep pertapaan, meditasi, kesaktian, dan konsep-konsep sulit lainnya. Kalau kita tidak mampu masuk ke dalam kesederhanaan dan kemudahan Islam ini, maka namanya kita sedang tercover, tertutup, terhijab dari wilayah yang sangat sederhana dan mudah, sikap yang sederhana dan mudah, dan perilaku yang sangat sederhana dan mudah. Artinya ya…, kita akan menjadi orang-orang yang RUMIT di tengah-tengah kesederhanaan dan kemudahan. Dan tutup kerumitan itu biasanya lebih banyak disebabkan oleh ilmu pengetahuan kita sendiri. Sebuah tutup yang ternyata memang sangat sulit untuk kita bongkar dan dudukkan pada tempatnya. Padahal ilmu pengetahuan itu pada hakekatnya hanyalah sebuah alat dan cara untuk menuju kesederhanaan dan kemudahan dari hal-hal yang sebelumnya rumit dan sulit. Dan sayangnya kita masih saja mencari-cari alat dan cara itu kemana-mana, sehingga kita terjebak sendiri dengan berbagai alat dan cara itu. Ya…, kita saling ribut dengan alat dan cara yang kita cari-cari sendiri itu. Padahal kita hanya tinggal memakai yang sudah ada saja sebenarnya. Karena alat dan cara-cara untuk menuju ke kesederhanaan dan kemudahan itu telah diwariskan kepada kita oleh Muhammad SAW berbilang abad yang lalu. Dan itu masih relevan sampai saat ini dan saat yang akan datang. Cuma sayang…, kita sebagai umat penerus Beliau saja yang tidak bisa meneruskan tongkat estafet kesederhanaan dan kemudahan Islam, yang telah Beliau tinggalkan untuk kita, dengan cantik kepada orang-orang di sekitar kita, apalagi untuk masyarakat dunia. YANG TERCOVER…!. Nah sekarang…, sudah gampang sebenarnya untuk menimbang-nimbang dimana posisi kita masing-masing saat ini berada ketika kita menjalankan tugas kekhalifahan kita di muka bumi ini. Apakah kita ini termasuk orang-orang yang sedang tercover atau tidak dari sebuah kesederhanaan dan kemudahan pemahaman tentang hidup dan kehidupan ini. Misalnya, tatkala kita tidak mampu untuk menyadari KESEDERHANAAN TUHAN yang tidak sama dengan apapun juga (LAISA KAMISTLIHI SYAI’UN), yang Maha Dekat (QARIB) dan Maha Meliputi Segala Sesuatu (MUHITH), maka saat itu pulalah kita sebenarnya sedang tercover tentang Tuhan yang seharusnya. Akibatnya kita akan mencari-cari Tuhan kemana-mana, mempersepsikan dan menggambarkan Tuhan sesuai dengan fikiran kita masing-masing. Ada diantara kita yang sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ternyata TIDAK ADA, yang ADA adalah diri kita sendiri. Nah…, kesimpulan seperti ini dinamakan juga sebagai kesimpulan seorang atheis. Pengetahuan tentang diri kita sendiri ternyata telah menghalangi, mengcover kesadaran kita tentang keberadaan Tuhan. Ada pula diantara kita, yang karena ketidakberhasilan kita duduk di wilayah kesederhanaan Tuhan ini, kemudian tersasar-sasar pada kesimpulan bahwa ada anak Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri yang bisa digambarkan dan dipersepsikan sama dengan suatu benda atau makhluk. Lalu sesuatu yang dianggap sebagai anak Tuhan atau Tuhan itu kita sembah, kita puja, kita tuju sebagai objek fikir dalam beribadah, dan kita mintai pertolongan pula. Pemeluk agama Kristen, Hindu, Budha, dan agama-agama atau kepercayaan yang lainnya adalah contoh tentang ketercoveran manusia dalam memahami kesederhanaan Tuhan. Bahkan umat Islam sendiri juga sangat gampang untuk berada dalam wilayah ketersasaran umat-umat agama lain seperti diatas. Indikatornya gampang saja untuk memahaminya. Saat kita shalat, kemana kita hadapkan wajah kita ini. Kalau kita umat Islam ini tidak mampu untuk menghadapkan wajah kita ke Wajah Tuhan, sehingga arah pikiran kita menjadi tersasar-sasar kemana-mana, maka saat shalat itu juga sebenarnya kita tengah menyembah tempat fikiran kita tersasar-sasar itu. Misalnya, saat kita mengatakan Allahu Akbar…, Allah Maha Besar, akan tetapi saat itu pula fikiran kita tengah tertuju kepada suatu benda atau permasalahan yang kita hadapi, maka saat itu juga benda atau permasalahan kita itu sudah menjadi Tuhan kita. Akibat dari tercovernya kita terhadap ALAMAT tempat bergantung kita yang sebenarnya sangat sederhana saja, maka kita umat manusia ini secara otomatis akan menjadi terkotak-kotak. Dan kotak-kotak yang tercipta itu jumlahnya adalah sebanyak fikiran dan persepsi kita umat manusia ini yang mungkin ada. Karena terkotak-kotak begitu, maka ruangan yang ada di dalam otak dan dada kita akan menjadi terasa sangat sempit. Sehingga sedikit saja ruangan yang sudah sempit itu disentuh oleh persepsi lain yang berbeda dengan persepsi yang sudah ada di dalamnya, maka kita akan menjadi sesak, tertekan, dan akhirnya ngamukan. Misalnya, betapa ngototnya kelompok orang-orang yang mengiklankan tentang Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme. Misalnya Ulil and his gang itulah. Mereka dengan gagah perkasa mengatakan bahwa pemahaman Islam model lama sudah tidak relevan dan tidak bisa dipakai lagi untuk sekarang ini. Mereka mengusung yang namanya universalitas agama. Tidak ada keekslusifan satu agama lagi atas agama lainnya untuk masa-masa sekarang maupun masa yang akan datang. Akan tetapi pada saat yang sama sebenarnya mereka juga tengah berada dalam kesempitan berfikir yang amat sangat pula. Saat mereka menyalah-nyalahkan, menghoyak-hoyak, menololkan orang-orang yang tetap berada dalam kerangka berfikir salafus shaleh dalam memahami agama ini, maka secara otomatis pula sebenarnya mereka sudah tidak menjadi universal lagi sebagaimana yang mereka kobarkan-kobarkan selama ini. Pertanyaannya cuma sederhana saja : “Apakah dengan semboyan liberalisme, pluralisme, sekularime yang ditawarkan model Ulil and his gang itu sudah merupakan model yang teruji manfaatnya bagi umat manusia…?. Tidakkah usungan mereka ini malah kemudian menyebabkan mereka terkotak pula di ujung KUTUB PEMIKIRAN yang berseberangan dengan kotak kutub pemikiran lainnya?”. Kalau masih terkotak-kotak begini, ya…, namanya masih belum universal-lah…!. Begitu juga dengan MUI dan kelompok Islam mainstream lainnya. Pertanyaannya menjadi sangat sederhana sekali. “Apakah memang tidak ada cara-cara lain lagi yang lebih apik yang berbeda dengan cara-cara frontal masa-masa lalu yang telah berdarah-darah untuk menyadarkan dan mengenalkan kembali umat Islam maupun masyarakat dunia umumnya kepada keindahan dan kesempurnaan Islam ini…?”. Katanya Islam itu adalah rahmat bagi alam semesta. Akan tetapi…, klaim kita bahwa Islam ini adalah ahli damai, ahli selamat, ahli kebahagian dunia dan akhirat, ahli yang berakal, nampaknya masih sangat jauh panggang dari api. Cobalah kita amati dengan seksama cara yang apik tentang bagaimana praktek meditasi bisa berkembang mendunia. Tanpa kita sadari, sudah berapa banyak umat Islam saat ini yang ikut mempraktekkan ibadah agama lain berupa MEDITASI. Meditasi yang beredar luas di seluruh dunia saat ini adalah ritual agama lain yang dengan sangat cerdas telah dirubah bentuk menjadi sebuah praktek meditasi yang dianggap dan digembar-gomborkan sebagai laku universal. Tidak terkait dengan agama apapun. Sehingga berbondong-bondonglah umat manusia mempratekkannya, termasuk umat Islam sendiri. Sehingga jadilah umat Islam yang seharus mengarahkan kesadarannya ke Allah, kemudian malah mengarahkan kesadarannya kepada titik, kepada cakra-cakra, kepada benda-benda, atau alamat-alamat olah fikir lainnya. Tanpa di nyana, kita umat Islam ini memang telah dijauhkan dari kesadaran kita kepada Allah. Dan saya termasuk di dalamnya beberapa tahun yang lalu. Astagfirullahal adhiem. Ketidaksadaran kolektif kepada Tuhan seperti inilah yang banyak menghinggapi umat Islam saat ini hampir di seluruh dunia. Walaupun kita umat Islam ini sangat-sangat fasih dalam mengucapkan lafal ALLAH, akan tetapi ucapan itu tidak serta merta bisa membawa kita ke SUASANA berada di Benteng Allah. Padahal kalau kita sudah berada di dalam Benteng Allah itu, maka kita akan menikmati suasana yang sangat liberal, sangat universal, sangat plural, sangat sekular. Tidak ada apa-apanya di sana yang perlu di BINDING, kecuali hanya Wajah-Nya…, laa ilaha illa Allah…!. Karena begitu banyaknya kita umat Islam ini yang tidak mampu berada di dalam Benteng Allah ini, ya…, seperti kita-kita sekarang inilah jadinya. Ramai sekali. Beda paham sedikit saja kita jadi mencak-mencak dan akhirnya nguuamuk, beda aliran saja kita jadi dongkol dan akhirnya nguamuk, beda pendapat saja kita jadi kelimpungan dan akhirnya nguamuk, beda sesembahan pun kita jadi ngamukan juga satu sama lainnya. Nguamuk…, ngamuk lagi…!. Dan anehnya lagi, ngamuknya kita itu malah sambil meneriakkan kalimat Allahu Akbar.., Allah Maha Besar…!. Padahal kalimat Allahu Akbar itu, kalau kita tahu dan mengerti maknanya yang sebenarnya, maka keadaan akan menjadi lain. Begini…, ungkapan Allahu Akbar itu kan sebenarnya adalah ungkapan KESAKSIAN kita saja atas realitas KEMAHABESARAN TUHAN. Wong yang namanya kita sedang bersaksi atas Dzat Yang Maha Luas, Maha Besar, tentu saja secara otomatis pula otak dan dada kita akan dibawa menjadi luas dan besar yang tak terhingga. Kesadaran kita akan di giring mengarah kepada Yang Maha Besar gitu loh. Sehingga dalam keluasan fikiran dan rasa itu kita kemudian mampu melihat kotak-kotak sempit fikiran orang. Kita seperti berada di luar kotak-kotak fikiran orang itu, sehingga kita tidak ikut-ikutan ditarik-tarik oleh kesempitan fikiran orang-orang yang memang sudah sempit begitu. Dari wilayah keluasan fikiran dan rasa itu, kita seperti mampu untuk menyadari bahwa kita seperti diluar permasalahan-permasalahan yang ada. Kita seperti menjadi pengamat dan penyaksi saja atas permasalahan yang bermunculan bak cendawan di musim hujan itu sambil menggumamkan kesaksian dan do’a kita: “OOO… ada ya… yang begini, dan ada pula yang begitu…!. Aaaa…, akibatnya ternyata akan begini ya… kalau kita seperti begitu…!. Subhanaka…, Maha Suci Engkau Ya Allah. Tidak sia-sia engkau persaksikan kesemuanya itu kepada saya. Ternyata kesemuanya itu hanya untuk menjadi bahan pelajaran bagi saya, agar saya nggak ikut-ikutan begitu…!. Ya Allah…, ampunilah saya, ampuni jugalah mereka. Kan Engkau Sang Maha pengampun. Ya Allah…, hidayahilah saya, hidayahi jugalah mereka. Kan Engkau Sang Maha Pemberi Hidayah dan sekaligus Sang Maha Penutup Hidayah….”. Setelah menghantarkan pujaan dan do’a itu, tentu saja yang punya muatan, kita tinggal menjadi pengamat saja tentang bagaimana cara Allah menyelesaikan masalah-masalah yang muncul itu dengan sangat mengagumkan. Bagaimana Allah meletakkan Kehendak-Nya ke dalam dada orang-orang tertentu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar orang tersebut bisa meredam suasana sehingga tidak memunculkan keadaan yang lebih buruk. Atau kadangkala bagaimana Allah menarok Kehendak-Nya dan memberikan daya kepada orang-orang tertentu untuk menghancurkan kelompok orang lain. Cool dan smooth sekali rencana-rencana dan kehendak-kehendak Allah itu mengalir dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Hampir-hampir saja kita tidak dapat merasakan perubahan demi perubahannya, sehingga membuat kita masih sempat pula mengakuinya sebagai rencana-rencana dan kehendak-kehendak kita. “Kalaulah tidak karena saya…, Itukan rencana saya…, Saya lho yang punya inisiatif…”, dan berbagai ungkapan kesombongan dan keangkuhan lainnya…, bisa mengalir begitu FASIH dari mulut kita. MEMBUKA COVER… Muatan Al Qur’an dan Al Hadist adalah bagaimana agar kita umat manusia ini mampu membuka suasana tercover, tertutup, terhijab, KAFIR terhadap Dzat Yang Maha Sederhana, dan juga terhadap tugas kita di dunia ini yang sangat sederhana dan mudah pula. Karena memang suasana tercover ini akan tetap dan selalu ada setiap saat. Kesederhanaan dan kemudahan muatan Islam itu kalau diringkas kira-kira adalah begini: 1. Temukanlah, yaaa… temukanlah DENGAN SENGAJA kesadaran yang sangat kuat, DZIKIR, BINDING, ANCHORING, TERJANGKAR terhadap SESUATU YANG SANGAT SEDERHANA sebagai ALAMAT kita untuk BERSANDAR dalam setiap aktivitas dan tarikan nafas kita. Saking sederhananya alamat tempat kita bersandar itu, sehingga kita tidak perlu lagi untuk mempersepsikan-Nya seperti apapun juga. Dialah Sang Laisa Kamistlihi Syai’un, ALLAH. Dia sangat dekat (QARIB) dan meliputi segala sesuatu (MUHITH). Jadi nggak perlu dicari kemana-mana. 2. Dengan tetap menjaga suasana TERJANGKAR ke alamat yang sangat sederhana ini, berlomba-lombalah kita menemukan, mengolah, dan menebar kebaikan yang melekat pada setiap ciptaan Tuhan, FASTABIQUL KHAIRAT. Karena memang semua ciptaan Tuhan ini tidak ada sedikitpun yang sia-sia. Semua bermanfaat. Semua telah diwariskan Tuhan kepada kita sebagai bahan pelajaran buat kita. Dan kesemuanya itu kita lakukan dengan menggunakan fasilitas dari Tuhan pula. Fasilitas mendengar, melihat, mengetahui, hidup, bergerak, yang memang telah diberikan Tuhan kepada kita secara cuma-cuma pula. 3. Nah…, ketika kita mereguk manfaat demi manfaat yang mengalir tiada hentinya dari alam semesta dan diri kita ini, kita tinggal tambah memperkuat saja suasana TERJANGKAR itu tadi dengan ungkapan SYUKUR. SUBHANAKA…, Maha Suci Engkau Wahai Tuhan tempat-ku bergantung. Dan suasana BINDING kepada TUHAN itu akan bertambah dan bertambah dari waktu ke waktu dengan adanya ungkapan syukur kita itu. Artinya otak kita ini selalu dibawa, diafirmasi, diyakinkan, untuk selalu terbuka, menganga, siap menerima pengajaran-demi pengajaran. Sehingga hampir secara otomatis pula kita akan menjadi UNBINDING kepada segala sesuatu, apapun, fenomena apapun, suasana apapun, kecuali terhadap tempat bergantung kita awal yang memang sangat sederhana, Allah….!. 4. Dan langkah terakhir…, tinggal kita kirimkan pengharapan kita kepada Tuhan agar semua manfaat demi manfaat yang telah kita dapatkan itu tidak menjadi sumber siksa dan angkara murka bagi kita, bagi orang lain, dan bagi alam semesta ini. Kalau sudah begini…, maka kita tinggal melangkah dengan tenang MENITI JEMBATAN KESEDERHANAAN…, Shiraath al mustaqim, menuju our ULTIMATE DESTINY, sebagai Hamba Tuhan, Khalifah Tuhan, Duta Istimewa Tuhan dimuka bumi ini. Wallahu a’lam… Wass

Deka Kabel 16, Cilegon 09 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: