Keutamaan sholat

Segala Puji hanya milik Dzat yang Maha Mulia, yang ditanganNya tergenggam nyawa-nyawa seluruh mahluk semesta alam..yang Maha Kekal sebelum segala sesuatunya ada, dan akan tetap Kekal setelah segala sesuatunya tiada.Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunanNya.Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita.

Shalawat dan Salam kepada Baginda Rasulullah SAW, Kekasih Allah juga para ahlul bait dan para sahabat2 beliau yang kita sebagai ummatnya, saudara seIman mereka di masa sekarang ini belum pernah melihatnya tapi tetap merasakan kehadirannya dan senantiasa merindukan perjumpaan dengannya.

Saudaraku seiman, Allah SWT hantar kita ke bumi sebagai Khalifah tentu saja dengan maksud dan tujuan bukan tanpa maksud. dan Salah satunya adalah untuk menyempurnakan Sholat.

Manusia adalah sebaik-baik mahluk sebagaimana Allah SWT nyatakan.
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S At Tiin 4).

Maka kemulian manusia ini juga yang membuat kewajiban sholat hanya diberikan kepada manusia saja bukan kepada mahluk lainnya, hanya terkadang manusia tidak faham betapa mulianya sholat itu.

Matahari, Bulan, Awan, Angin, Tanah, Pohon, Binatang dan semua mahluk Allah senantiasa bertasbih memuji Allah SWT bahkan Langit yang tujuh sekalipun.
“Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S As Shaff 1).

Semua Mahluk selain manusia yang Allah ciptakan mungkin bisa sahaja bertasbih sepanjang masa atau sepanjang hidup mereka, bahkan bisa sahaja mereka berpuasa selama-lamanya tapi adakah mampu mereka Sholat sebagaimana manusia Sholat?.

Mahluk Allah mungkin bisa bertasbih bahkan mungkin tidaklah mereka luput dari bertasbih hingga ada ulama kita yang mengatakan “Sedikit sahaja matahari lalai dari mengingat Allah maka Allah akan hancurkan dia”.
Dari seluruh mahluk yang Allah ciptakan cuma manusia sahaja yang diwajibkan Sholat atau kalau bisa kita katakan cuma manusia yang mampu melakukan gerakan-gerakan Sholat.

Kita sebagai manusia memang kurang teliti dalam melihat barang yang berharga hingga Sholat yang begitu penting sering sekali lalaikan. Coba kita tengok bagaimana perintah Sholat ini Allah wajibkan dibanding perintah-perintah Allah lainnya kepada Rasulullah.

Puasa, Shaum, zakat dan haji Bahkan Jihadpun yang jaminan Surga bagi yang mengamalkan, Allah SWT hanya hantar Malaikat Jibril as sahaja untuk menyampaikan sebagai Wahyu kepada Rasulullah SAW, berbeda dengan perintah Sholat yang Allah SWT memanggil langsung Baginda Rasulullah sebagai oleh-oleh yang sangat berharga bagi ummatnya.

Sholat hari ini yang kita lakukan tidak ada bedanya dengan Sholat yang para Nabi dan ummat terdahulu amalkan.

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling” (Q.S Al Baqarah 83).

Bahkan, Nabi saw. menyatakan bahwa dua rakaat sebelum Subuh (shalat sunnah Qabliyah Subuh) nilainya lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya.
“Dua rakaat shalat sunnah Subuh lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya:”. (HR Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).

Rasulullah adalah Uswatun Hasanah (Suri Tauladan) dan Manusia yang tidak pernah berbohong semenjak beliau lahir bahkan disaat bercandapun beliau tidak pernah berbohong (seperti pesan yang dikisahkan kemarin) maka kalaulah Beliau mengatakan “lebih baik dari dunia beserta isinya” apakah lagi yang membuat hati kita berat mempercayainya??.

Sebagian ulama salaf berkata: “Shalat itu ibarat engkau menghadiahkan seorang wanita hamba sahaya kepada sang Raja. Bagaimana tanggapan sang Raja, bila yang engkau hadiahkan itu ternyata tangannya lumpuh, atau sebelah matanya buta, atau telinganya tuli, atau tangan dan kakinya buntung, atau (badannya) sakit atau perangainya jelek ataupun (rupanya) jelek, dan bahkan sudah jadi mayat?
Maka bagaimana lagi tentang ibadah shalat, yang dijadikan hadiah dan taqarrub (mendekatkan diri) dari seorang hamba kepada Rabb-Nya? Padahal Allah itu baik, yang tidak menerima kecuali yang baik. Termasuk dari amalan yang tidak baik adalah shalat yang tidak ada ruhnya. Sebagaimana tidak teranggap pembebasan budak yang baik, jika ternyata budak itu sudah tidak ada ruhnya.” (Madarijus Salikin 1/526)

Banyak sekali saudara kita hari ini sholat, tapi hanya sekedar penggugur kewajiban sahaja, bukan sebagai kebutuhan ruhani sebagaimana seseorang yang butuh akan makan untuk beraktifitas.
Alhasil banyak yang melakukan gerakan-gerakan sholat seolah-olah melakukan sholat.

Baginda Rasulullah sudah memperingatkan kita mengenai pentingnya khusyuk dalam sholat.
“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.” (HR. Thabrani, Ash Shahihah 3/346 karya Asy Syaikh Al Albani).

Seseorang yang baik sholatnya maka akan tercermin kedalam kehidupan sehari-harinya dan sholatnya akan wujud menjadi sifat bagi dirinya. Sebagaimana didalam sholat ia menundukkan pandangannya, maka dalam kehidupannyapun ia akan menjaga pandangannya dari hal-hal yang Allah SWT tidak Redha,
jika didalam sholat ia tenang dan pandai membawa diri maka diluar sholat ia akan menjaga adabnya, jika didalam sholat ia membaca tilawah Quran dengan khuyusuk maka diluar sholat Quran akan menjadi buku panduannya dan bila dalam sholat ia mengucap salam maka diluar sholat ia tidak akan tenang bertemu saudaranya seiman bila tidak mengucap salam.

Maka dari sini barulah Allah SWT nyatakan
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (Q.S Al Ankabut 45)

Sholat adalah tempat seorang hamba bermunajat kepada Tuannya, tempat memohon akan keselamatan diri dan ahli keluarganya juga saudaranya seiman.
“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-Nya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Untuk Ikhwan maka wajib baginya untuk melaksanakan sholat secara berjamaah, disamping banyaknya keutamaan sholat berjamaah didalam Haditspun tidak ada satupun riwayat yang mengisahkan Rasulullah melaksanakan sholat wajib dirumah apalagi sholat berjamaah beserta anggota keluarganya dirumahnya.

Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu tentang kisah seorang Anshar yang tidak pernah tertinggal dari shalat berjama’ah, dan tidak pula ia menginginkan rumahnya berdekatan dengan masjid, berkata kepada Nabi
“Aku tidak bergembira jika rumahku (terletak) didekat masjid. Aku ingin agar langkahku ke masjid dan kepulanganku ketika aku kembali kepada keluargaku dicatat.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Allah telah menghimpun semua itu untukmu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Ibnu Hibban:
“Allah telah memberikan itu semua kepadamu. Allah telah memberikan kepadamu apa yang engkau cari, semuanya.” (HR.Ibnu Majah)

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang perkara yang akan menghapuskan kesalahan-kesalahan dan juga mengangkat beberapa derajat?” Para sahabat menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Menyempurnakan wudhu’ pada saat yang tidak disukai, banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah melaksanakan shalat. Maka, itulah ar-tibath (berjuang di jalan Allah).” (HR. Muslim).

“Jika salah seorang dari kalian berwudhu’ di rumahnya, kemudian datang ke masjid, maka ia berada dalam shalat hingga ia kembali. Oleh karenanya, jangan mengatakan demikian-seraya menjaringkann diantara jari-jemarinya-.” (HR. Ibnu Khuzaimah, di shahihkan oleh Syaikh al Albani)

“Hendaklah orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid bergembira dengan (mendapatkan) cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR.Ibnu Majah, syaikh al Albani menilainya shahih)

“Barangsiapa yang pergi ke masjid dan pulang (darinya), maka Allah menyiapkan untuknya persinggahan di Surga setiap kali pergi dan pulang.” (Muttafaq ‘alaih, lafazh ini milik Bukhari).

Melaksanakan shalat berjama’ah juga merupakan ibadah yang paling ditekankan, ketaatan terbesar dan juga syi’ar Islam yang paling agung,
Dan berbeda dengan Ikhwan maka Akhwat sebaik-baik sholat ialah sholatnya dirumahnya karena Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah.
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat” (Al-Ahzab : 33).

Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: